www.terbaik-indonesia.com “SIM, STNK, sudah?” absen Bapak sesaat melihatku keluar sambil menyangking helm butut berlabel SNI. Aku tersenyum. “Sudah, Pak.” “Bagus. Ada polisi ataupun tidak, kalau sudah lengkap ‘kan tenang,” ujar Bapak sembari menyeruput kopi hitamnya. “Kamu lihat Si Ipung, hidupnya selalu gelisah karena tidak memiliki SIM. Sudah seperti teroris saja dia, selalu menghindar dari aparat penegak hukum. Setiap berangkat dan pulang kerja, dia harus menyusup ke jalan-jalan pedesaan supaya tidak berpapasan polisi.” Bapak menggeleng perlahan. “Apapun bentuknya, perbuatan dosa memang selalu membikin hidup seseorang tidak tenang.” Lantas kembali menyeruput kopi hitamnya. Aku mengangguk. Awalnya terdengar sedikit berlebihan untukku. Kenapa sih harus membawa SIM dan STNK segala? Toh aku berangkat pagi-pagi sekali dan pulang menjelang Maghrib, tidak mungkin ‘kan polisi menggelar razia di jam-jam non aktif seperti itu? Memangnya polisi tidak shalat, sampa...